Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Makin Dekat Rp18.000
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 40 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Mata uang Indonesia dibuka melemah dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah pada pembukaan perdagangan melemah 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.918 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.900 per dolar AS.
Dengan posisi rupiah tersebut membuat jaraknya semakin tipis dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Jika dihitung dari posisi pembukaan Rp17.918, rupiah hanya berjarak Rp82.
Menariknya, tekanan terhadap rupiah terjadi ketika indeks dolar AS justru bergerak turun. Pada perdagangan hari ini, indeks dolar AS melemah 0,07 persen ke level 102,130.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan rupiah tertekan harga minyak dunia yang kembali naik.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Mengutip Anadolu, dilaporkan bahwa Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan sebuah gedung administrasi milik Saudi Aramco di Dhahran, wilayah timur negara tersebut, menjadi sasaran serangan Ansarullah Yaman (Houthi) pada Selasa malam dan memicu kebakaran kecil.
Kementerian tersebut mengatakan tim tanggap darurat telah merespons insiden tersebut dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, serta memastikan tidak ada laporan korban luka maupun korban jiwa.
Kejadian ini menyebabkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik sebesar 1,89 dolar AS, atau 2,06 persen, menjadi 93,74 dolar AS per barel di bursa New York Mercantile Exchange, sebagaimana laporan Xinhua.
Adapun minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 1,93 dolar AS, atau 1,84 persen, menjadi 106,65 dolar AS per barel di bursa London ICE Futures Exchange.
Namun, rupiah disebut memperoleh dukungan koreksi indeks dolar AS dan yield UST yang tertekan pernyataan dovish pejabat The Fed John C. Williams.
“Pejabat the Fed John Williams melihat sekali kenaikan suku bunga tahun ini, namun menilai tidak diperlukan kenaikan lebih lanjut pada tahun 2027,” ungkap Lukman.
Selain itu, investor masih cenderung wait and see mengantisipasi data inflasi AS malam ini. Inflasi inti diperkirakan naik dari 2,4 persen ke 2,5 persen, sedangkan inflasi umum dari 3,4 persen ke 3,6 persen.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
