Karhutla Ancam Ekonomi Tanjab Timur, 659 Hektare Lahan Terbakar hingga Oktober
- account_circle say say
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

Karhutla
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, bukan sekadar ancaman lingkungan. Kebakaran juga berisiko mengganggu produktivitas perkebunan, kesehatan pekerja, serta aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada pemanfaatan lahan.
Data Posko Satgas Karhutla Provinsi Jambi mencatat, luas lahan terbakar di Tanjung Jabung Timur mencapai 659,18 hektare sejak 1 Januari hingga 6 Oktober 2026. Angka tersebut menempatkan kabupaten ini sebagai salah satu wilayah dengan luasan kebakaran terbesar di Provinsi Jambi.
Secara keseluruhan, luas lahan terbakar di Provinsi Jambi mencapai 4.267,51 hektare. Pada Selasa (6/10), sebanyak 144 titik panas atau hotspot terdeteksi, turun dibandingkan 199 titik sehari sebelumnya. Sementara itu, akumulasi hotspot sepanjang 2026 mencapai 12.106 titik berdasarkan pemantauan satelit Aqua/Terra dan Suomi NPP.
Sorotan terhadap karhutla juga datang dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi. Dalam laporan 18 September 2026, analisis spasial citra satelit Sentinel-2 menemukan sekitar 30 perkebunan kelapa sawit dan 14 pemegang perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) bersinggungan dengan area kebakaran di Provinsi Jambi.
Warsi menegaskan, persinggungan spasial tersebut tidak otomatis membuktikan penyebab kebakaran ataupun pihak yang bertanggung jawab. Temuan itu perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi lapangan.
Dampak karhutla turut terlihat dari memburuknya kualitas udara. Pemerintah Provinsi Jambi melaporkan pada 6 Oktober bahwa ISPU di sejumlah lokasi menembus angka 300, masuk kategori berbahaya. Namun, angka tersebut tidak dapat langsung dianggap mewakili kondisi udara di seluruh Tanjung Jabung Timur.
Dari sisi ekonomi, kebakaran berpotensi merusak tanaman, mengganggu pekerjaan dan distribusi barang, serta meningkatkan biaya penanganan darurat. Besarnya kerugian di Tanjung Jabung Timur masih memerlukan penghitungan berdasarkan jenis lahan, nilai produksi, dan dampak terhadap masyarakat.
Karena itu, pengawasan kawasan rawan, kesiapan sumber air, pemantauan titik panas, serta pemeriksaan penyebab kebakaran perlu diperkuat. Pencegahan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan usaha perkebunan sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.
- Penulis: say say
