Harga Minyak Dunia Tembus US$113, Ultimatum Trump ke Iran Picu Ketegangan Selat Hormuz
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Warga Amerika antrian di SPBU untuk mengisi minyak kendaraanya.
JAMBISNIS.COM – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada Selasa (7/4/2026) di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan ini dipicu ultimatum keras Presiden AS, Donald Trump, terkait pembukaan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
Mengutip laporan pasar, minyak mentah Brent naik 0,5 persen ke level US$110,34 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melonjak 1,1 persen hingga menyentuh US$113,67 per barel. Lonjakan harga ini terjadi setelah Trump mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap Iran jika tidak segera membuka kembali Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Bahkan, Trump memperingatkan akan “menghujani neraka” ke Teheran apabila tenggat waktu yang ditetapkan tidak dipenuhi.
Di sisi lain, Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan melalui mediator internasional. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa penghentian perang secara permanen menjadi syarat utama sebelum membuka kembali akses Selat Hormuz.
Sejak konflik antara Iran dengan koalisi AS-Israel pecah pada akhir Februari lalu, akses di Selat Hormuz memang dibatasi. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global.
Analis pasar dari KCM Trade, Tim Waterer, menilai pergerakan harga minyak saat ini tidak lagi semata dipengaruhi faktor fundamental, melainkan juga tekanan geopolitik.
“Pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan politik, terutama terkait tenggat ultimatum dari AS,” ujarnya.
Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan menahan dua kapal tanker gas alam cair milik Qatar. Selain itu, lalu lintas kapal di kawasan Teluk juga terpantau masih terbatas.
Situasi diperparah dengan konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah. Ledakan dilaporkan terjadi di Damaskus akibat intersepsi rudal Iran oleh Israel, sementara Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal balistik yang mengarah ke wilayahnya.
Tak hanya itu, gangguan pasokan juga datang dari Rusia setelah terminal ekspor minyak di Laut Hitam diserang drone Ukraina. Di tengah kondisi tersebut, Saudi Aramco menaikkan harga jual resmi minyak Arab Light ke pasar Asia untuk pengiriman Mei, dengan premi mencapai US$19,50 per barel tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara itu, kelompok produsen minyak OPEC+ sebelumnya telah menyepakati peningkatan produksi sebesar 206 ribu barel per hari pada Mei. Namun, kenaikan ini dinilai belum cukup untuk meredam lonjakan harga akibat gangguan distribusi global.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar