Rupiah Makin Tertekan Akibat Konflik Timur Tengah
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 6 menit yang lalu
- comment 0 komentar

ANJLOK: Nilai tukar rupiah melemah 58 poin atau 0,34 persen pagi ini, menjadi Rp16.930 per dolar AS. (F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah anjlok pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Dibuka pagi ini rupiah melemah 58 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.930 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup melemah ke level Rp16.872 per dolar AS.
Dikutip dari TradingView dilansir Investor, mata uang Asia bergerak konsolidatif terhadap dolar AS pada awal perdagangan, namun berpotensi tertekan oleh konflik di Timur Tengah. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,13% ke level 99,18.
Kenaikan harga minyak akibat konflik tersebut juga dapat melemahkan mata uang kawasan, mengingat sejumlah negara di Asia merupakan pengimpor bersih minyak.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, serta Lebanon.
“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Menurut Ibrahim, sejumlah kapal tanker dan kapal kontainer mulai menghindari jalur tersebut setelah perusahaan asuransi menghentikan perlindungan terhadap kapal yang melintas di wilayah tersebut. Akibatnya, tarif pengiriman minyak dan gas global dilaporkan mengalami lonjakan.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam menyatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan bahwa Iran akan menembak kapal yang mencoba melintas.
“Sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” kata Ibrahim.
Meski tekanan eksternal meningkat, data ekonomi domestik menunjukkan perkembangan yang relatif positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS. Surplus tersebut memperpanjang tren positif neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar 3,22 miliar dolar AS,” ujar Ibrahim.
Kurs Referensi BI Juga Melemah
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan. Pada hari yang sama, JISDOR tercatat berada di level Rp16.870 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp16.848 per dolar AS.
Tekanan eksternal akibat konflik geopolitik diperkirakan masih akan mempengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek, terutama jika ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua


Saat ini belum ada komentar