Rupiah Makin Tertekan! Dolar AS Tembus Rp18.140, Tren Pelemahan Berlanjut
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Petugas memperlihatkan pecahan uang dolar AS dan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah belum mampu keluar dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), mata uang Indonesia kembali melemah dan semakin bertahan di zona merah.
Mengutip Antara, rupiah melemah 5 poin atau 0,03 persen menjadi Rp18.140 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.135 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah di tengah penguatan mata uang Negeri Paman Sam. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau naik 0,11 persen ke level 102,070.
Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi sejumlah sentimen dari dalam negeri maupun global.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan nilai transaksi LCT sepanjang 2026 dapat mencapai US$55 miliar, melonjak sekitar 120% dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal itu disampaikan Destry dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
“Perkiraan akhir tahun ini sekitar 55 miliar USD padahal tahun lalu itu baru sekitar 25 miliar USD. Mainly adalah dari China,” katanya.
Menurut Destry, peningkatan pemanfaatan LCT dapat membantu mengurangi kebutuhan dolar AS di dalam negeri sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
“Ini akan mengurangi penggunaan juga USD sehingga juga nilai tukar kita juga akan bisa lebih balance. Jadi pendekatan bilateral banyak kami lakukan,” ujarnya.
Sementara dari eksternal, harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026) di tengah harapan meredanya konflik Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent turun 0,8% menjadi US$115,81 per barel, sedangan WTI melemah 1,46% ke US$101,76 per barel.
Penurunan tersebut terjadi seiring berlangsungnya pertemuan antara Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Iran di Teheran untuk meredakan ketegangan kawasan. Meski demikian, serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta risiko gangguan pelayaran masih membayangi pasokan energi global.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih, penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Namun, harga yang masih bertahan di level tinggi membuat risiko terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
