Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.939 per Dolar AS, Makin Dekat Rp18.000!
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Petugas kasih tengah menghitungan pecahan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Mata uang Indonesia membuka perdagangan di zona merah dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, rupiah pada pembukaan perdagangan melemah 26 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.939 per dolar AS. Posisi tersebut memburuk dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.913 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang dialami rupiah sehari sebelumnya. Pada Senin (12/10/2026), rupiah ditutup turun 14 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp17.913 per dolar AS.
Padahal, rupiah sempat membuka perdagangan dengan penguatan 5 poin atau 0,03 persen di level Rp17.894 per dolar AS. Namun, penguatan pada awal perdagangan tersebut tidak bertahan hingga penutupan
Kini, posisi rupiah di Rp17.939 per dolar AS membuat jaraknya semakin tipis dari level Rp18.000.
Menariknya, penurunan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS mengalami pelemahan. Pada perdagangan hari ini, indeks dolar turun 0,09 persen ke level 102,490.
Meski terkoreksi pada pagi ini, indeks dolar AS masih bertahan di level yang relatif tinggi dan berada di sekitar posisi terkuatnya sejak April tahun lalu. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan terhadap dolar AS masih kuat dan membatasi ruang penguatan rupiah.
Dolar AS ditopang oleh suku bunga AS yang relatif tinggi, pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, serta meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.
“Kombinasi suku bunga relatif lebih tinggi, pertumbuhan AS yang lebih kuat, dan meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset defensif terus memberikan dukungan kuat bagi greenback,” kata Kepala Riset Pepperstone Group Chris Weston, dikutip dari Reuters.
Kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperkuat dolar. Kekhawatiran geopolitik kembali meningkat setelah terjadi serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan Ukraina.
Harga minyak Brent sempat melonjak 1,8% pada perdagangan Senin menyusul serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi dan Ukraina. Pada perdagangan Asia pagi ini, Brent terkoreksi 0,9% ke US$105,74 per barel.
Harga energi yang tetap tinggi berpotensi menjaga tekanan inflasi global. Kondisi ini dapat membuat suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama sekaligus mempertahankan daya tarik dolar AS.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
