Bukan Cuma Asap, Karhutla Jambi Ancam Pendapatan dari Ribuan Hektare Lahan
- account_circle -
- calendar_month 51 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pemadaman kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang terjadi di wilayah Provinsi Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Karhutla bukan sekadar soal hutan yang terbakar dan asap yang membumbung. Di balik ribuan hektare lahan yang hangus, ada potensi kerugian ekonomi yang ikut membesar. Lahan produktif terancam kehilangan nilai, aktivitas masyarakat terganggu. Sementara biaya pemadaman dan penanganan terus berjalan.
Di Provinsi Jambi, ancaman itu belum benar-benar jinak. Hingga 6 Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan telah menghanguskan 4.267,51 hektare. Luasan tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan menjadi alarm bahwa dampak karhutla tidak bisa dipandang sebelah mata.
Berdasarkan data Posko Satgas Karhutla Provinsi Jambi per Selasa (6/10/2026) pukul 19.00 WIB, masih terdeteksi 144 hotspot di sejumlah wilayah Jambi.
Jumlah tersebut memang turun dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Senin (5/10/2026), jumlah hotspot mencapai 199 titik. Artinya, dalam sehari terjadi penurunan sebanyak 55 titik panas.
Namun, penurunan harian tersebut belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Secara kumulatif sejak awal 2026, jumlah hotspot di Provinsi Jambi telah mencapai 12.106 titik, berdasarkan pemantauan satelit Aqua/Terra dan Suomi NPP.
Dari sisi luasan, periode 1 Januari hingga 6 Oktober 2026 mencatat sekitar 4.267,51 hektare lahan terbakar.
Kabupaten Batanghari menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, mencapai 1.306,81 hektare. Disusul Tanjab Barat 666,45 hektare, Tanjab Timur 659,18 hektare, Muaro Jambi 608,71 hektare, dan Sarolangun 508,55 hektare.
Besarnya luasan lahan terbakar tersebut berpotensi memberikan efek domino terhadap perekonomian. Ketika lahan pertanian maupun perkebunan terdampak, potensi produksi dan pendapatan masyarakat ikut terancam.
Dampaknya juga bisa merembet ke aktivitas ekonomi lainnya. Asap yang muncul akibat karhutla berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat, kegiatan perdagangan, transportasi, hingga produktivitas pekerja.
Di sisi lain, penanganan karhutla juga membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Operasi pemadaman, patroli, pemantauan hotspot, hingga upaya pencegahan membutuhkan dukungan personel, peralatan, dan anggaran.
Belum ada angka pasti mengenai total kerugian ekonomi akibat karhutla Jambi sepanjang 2026 dalam data yang disampaikan tersebut. Namun, dengan lebih dari 4.200 hektare lahan terbakar, potensi dampaknya terhadap sektor ekonomi dan kehidupan masyarakat jelas tidak bisa dianggap remeh.
Karena itu, penurunan hotspot dari 199 menjadi 144 titik tidak boleh membuat kewaspadaan menurun. Justru, momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pencegahan agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Penanganan dilakukan secara terpadu oleh TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, BMKG, serta instansi terkait lainnya.
Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji mengatakan, jajaran Polda Jambi bersama seluruh stakeholder terus melakukan pencegahan, pemantauan, dan penanganan terhadap titik-titik yang terindikasi mengalami peningkatan aktivitas kebakaran.
“Polda Jambi bersama seluruh stakeholder terus bersinergi dalam penanganan karhutla. Setiap informasi hotspot menjadi perhatian untuk segera dilakukan pengecekan di lapangan, sehingga potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas,” ujar Erlan.
Sebab, semakin luas lahan yang terbakar, semakin besar pula potensi kerugian yang harus ditanggung. Karhutla akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman bagi roda ekonomi Jambi.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
