Rupiah Perkasa! Menguat ke Rp17.866, Menjauh dari Level Rp18.000
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pecahan mata uang dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah tampil perkasa. Mata uang Indonesia berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/10/2026).
Mengutip Antara, rupiah hari ini dibuka di level Rp17.866 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 33 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.899 per dolar AS.
Penguatan tersebut sekaligus membuat rupiah kembali menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS justru masih bergerak naik. Indeks dolar AS terpantau menguat 0,03 persen ke level 101,94.
Padahal, pada perdagangan sebelumnya, indeks dolar AS sempat terkoreksi 0,27 persen.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, tujuh dari sembilan mata uang Asia yang dipantau bergerak melemah terhadap dolar AS. Rupiah dan dong Vietnam menjadi dua mata uang yang bertahan di zona hijau.
Dong Vietnam mengalami kenaikan 0,02 persen ke posisi VND25.983 per dolar AS.
Di sisi lain, dolar Taiwan mengalami tekanan paling dalam dengan depresiasi 0,26 persen ke TWD31,86 per dolar AS. Baht Thailand menyusul dengan pelemahan 0,24 persen ke THB33,65 per dolar AS.
Yen Jepang terkoreksi 0,20 persen ke JPY158,41 per dolar AS. Sementara won Korea Selatan melemah 0,19 persen ke KRW1.340,5 per dolar AS.
Peso Filipina turun 0,12 persen ke PHP62,769 per dolar AS, diikuti dolar Singapura yang melemah 0,11 persen ke SGD1,2787 per dolar AS.
Ringgit Malaysia mencatat pelemahan paling tipis sebesar 0,05 persen ke posisi MYR4,084 per dolar AS.
Penguatan dolar pada perdagangan Asia pagi ini terjadi setelah dolar AS terkoreksi pada sesi sebelumnya. Indeks dolar AS tercatat turun 0,27 persen pada Selasa seiring meredanya tekanan di pasar obligasi global dan turunnya imbal hasil Treasury AS.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun turun sekitar 4 basis poin ke 5,271%, sementara tenor 30 tahun melemah 2 basis poin ke 5,641%. Penurunan imbal hasil tersebut terjadi setelah lelang obligasi pemerintah AS tenor tiga tahun mendapat respons positif dari pasar.
Tekanan terhadap dolar pada perdagangan sebelumnya juga datang dari berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Oktober. Peluang kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada bulan ini turun ke sekitar 20%, dari sekitar 70% pada pekan lalu.
“Sepertinya urgensi bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sedikit berkurang setelah data PCE yang lebih lunak dan laporan nonfarm payroll baru-baru ini,” ujar Gavin Friend, Senior Markets Strategist National Australia Bank, dikutip dari Reuters.
Meski peluang kenaikan pada Oktober semakin mengecil, pasar belum sepenuhnya meninggalkan ekspektasi pengetatan lanjutan. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember masih berada di kisaran 84,5%.
Investor kini menanti risalah pertemuan The Fed September serta komentar sejumlah pejabat bank sentral AS untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya. Pada pertemuan September, The Fed menaikkan suku bunga untuk merespons tekanan inflasi.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
