Bukan Cuma Bikin Sesak, Kabut Asap Ancam Ekonomi Warga Jambi
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Kabut asap dari karhutla menyelimuti Kota Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kabut asap tak hanya membuat napas warga Kota Jambi terasa berat. Dampaknya berpotensi merembet ke urusan dapur dan dompet masyarakat.
Selain mengganggu kesehatan serta aktivitas sehari-hari, kualitas udara yang memburuk di tengah kemarau panjang berpotensi menekan produksi pangan, mengerek harga kebutuhan pokok, hingga memperberat beban masyarakat berpenghasilan rendah.
Pengamat ekonomi Prof Amri Amir mengatakan, kemarau panjang telah memberikan tekanan terhadap produksi sejumlah bahan pangan, terutama sayuran. Kondisi tersebut semakin berat ketika wilayah Jambi diselimuti kabut asap.
“Kemarau menyebabkan bahan makanan seperti sayuran dan lainnya mengalami penurunan produksi. Ditambah ada asap, tambah membuat turun produksi,” kata Amri Amir.
Menurut dia, penurunan produksi berpotensi membuat pasokan pangan berkurang. Sementara itu, kebutuhan masyarakat tidak otomatis ikut turun.
“Suplai akan berkurang, sementara permintaan tidak berubah. Itu biasanya harga naik, dan bisa menyebabkan inflasi dan kemiskinan bisa bertambah,” jelasnya.
Efek kabut asap, lanjut Amri, tidak hanya berhenti pada sektor pertanian. Aktivitas ekonomi lain juga ikut terdampak, termasuk transportasi, khususnya penerbangan.
Namun, kelompok yang paling rentan menanggung dampak ekonomi tersebut adalah masyarakat kecil. Pedagang kecil dan petani, terutama petani palawija, menjadi kelompok yang menghadapi tekanan berlapis.
Kemarau membuat tanah semakin gersang. Pada saat yang sama, kabut asap turut memperburuk kondisi tanaman sehingga produksi pertanian berpotensi semakin menurun.
“Saya melihat saat ini produksi berkurang. Baru-baru ini saya dari Kerinci, memang menurun suplai sayuran,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, kata Amri, berbeda bagi masyarakat berpenghasilan tinggi. Kelompok tersebut dinilai memiliki pilihan lebih banyak untuk menghadapi gangguan ekonomi akibat kabut asap.
“Kalau pedagang besar, orang kaya tidak berpengaruh. Ada asap, dia bisa lari ke mana-mana,” katanya.
Sementara masyarakat kelas menengah ke atas, dampaknya lebih banyak berupa tambahan pengeluaran ketika harga kebutuhan mengalami kenaikan.
Namun, situasinya berbeda bagi petani dan rumah tangga miskin.
“Kalau yang masyarakat menengah ke atas, palingan hanya menambah pengeluaran karena kenaikan harga. Tapi petani, rumah tangga miskin itu tambah berat hidup mereka,” imbuhnya.
Amri berharap persoalan kabut asap dapat segera berakhir. Menurutnya, membaiknya kualitas udara bukan hanya penting bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk mengembalikan aktivitas ekonomi yang sempat terganggu.
“Dengan membaiknya kualitas udara, aktivitas masyarakat dan roda perekonomian di Kota Jambi diharapkan kembali berjalan normal,” tandasnya.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
