Rupiah Bangkit! Menjauh dari Rp18.000 per Dolar AS
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pecahan uang rupiah dan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Tren negatif rupiah akhirnya berhenti. Setelah sempat tertekan hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Indonesia kembali bangkit dengan menguat cukup tajam pada perdagangan Rabu (30/9/2026).
Mengutip Antara, rupiah hari ini berada di level Rp17.925 per dolar AS. Rupiah menguat 56 poin atau 0,31 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.981 per dolar AS.
Penguatan tersebut membuat rupiah kembali menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kini, mata uang Indonesia hanya berjarak Rp75 dari level tersebut.
Menariknya, penguatan rupiah terjadi ketika dolar AS justru masih menunjukkan penguatan, meski sangat tipis.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,01 persen ke posisi 101,377.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dinamika dolar AS di pasar global.
Dolar AS terus mendapat dukungan ketika pelaku pasar menantikan sejumlah data ekonomi penting yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Perhatian utama tertuju pada indeks harga personal consumption expenditures (PCE) AS periode Agustus yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat. Data inflasi pilihan The Fed tersebut kemudian akan disusul laporan tenaga kerja AS periode September pada Jumat.
Pelaku pasar akan mencermati kedua data tersebut untuk menilai apakah sikap ketat yang ditunjukkan The Fed masih sesuai dengan perkembangan ekonomi AS.
Ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat setelah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bertahan di atas 5%. Pasar kini memperhitungkan peluang hampir 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir Oktober.
Kombinasi tingginya imbal hasil obligasi dan ekspektasi pengetatan moneter membuat aset berdenominasi dolar tetap menarik. Dolar AS pada perdagangan sebelumnya bahkan sempat menyentuh 101,39, level tertinggi sejak 28 Juli.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah sedikit mendapat penyeimbang dari koreksi harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun 0,69% menjadi US$104,56 per barel setelah Arab Saudi kembali menjalankan jaringan pipa East-West dan meningkatkan pengiriman minyak melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Perkembangan tersebut memperbaiki perkiraan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Namun, harga Brent masih bertahan di atas US$100 per barel sehingga kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global belum sepenuhnya mereda.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
