Rupiah Tinggal Rp3 dari Rp18.000, Dolar AS Makin Menekan!
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 26 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pecahan rupiah dan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Mata uang Indonesia kembali terpuruk menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Rupiah kini benar-benar berada di ujung level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Jaraknya hanya Rp3.
Mengutip Antara, rupiah dibuka di level Rp17.997 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.978 per dolar AS.
Di sisi lain, dolar AS masih menunjukkan penguatan meski tipis. Indeks dolar AS tercatat naik 0,01 persen ke posisi 101,209.
Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan dolar AS sebesar 0,22 persen pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan pentingnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Dari sisi moneter, BI melakukan stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).
BI kini mengurangi porsi intervensi melalui pasar spot karena transaksi tersebut dilakukan dengan menjual dolar secara langsung sehingga dapat mengurangi cadangan devisa. Porsi intervensi spot saat ini hanya sekitar 30% dari keseluruhan intervensi BI.
“Jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan. Intervensi ada di DNDF, NDF, dan spot,” ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR.
Sebelumnya, intervensi BI lebih banyak dilakukan melalui pasar spot. Namun, pengembangan pasar DNDF dan NDF membuat kedua instrumen tersebut kini dinilai lebih efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah tanpa terlalu membebani cadangan devisa.
Kendati demikian, Destry mengakui tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari pergerakan pasar keuangan. Terdapat persoalan fundamental dan struktural yang memerlukan koordinasi dengan pemerintah, terutama melalui Kementerian Keuangan dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Karena itu, stabilisasi rupiah perlu dibarengi dengan penguatan ekspor barang dan jasa serta peningkatan investasi. Langkah tersebut diperlukan untuk memperbesar pasokan valuta asing di dalam negeri.
BI bersama pemerintah juga terus membahas berbagai program untuk meningkatkan ekspor dan menarik investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya tekanan dari dolar AS.(*)
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
