Kisah Rawasari, Terminal yang Pernah Menjadi Nadi Transportasi Kota Jambi
- account_circle say say
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Terminal Rawasari tempo dulu.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Ada masa ketika Terminal Rawasari menjadi salah satu titik paling ramai di Kota Jambi. Angkot atau oplet keluar-masuk membawa penumpang dari berbagai penjuru kota, sementara pedagang dan usaha kecil ikut hidup mengikuti arus orang yang datang dan pergi.
Terminal Rawasari mulai beroperasi pada 1973 setelah dibangun sekitar 1972-1973. Terminal tipe C ini berada di kawasan pusat Kota Jambi dan menjadi simpul penting angkutan perkotaan.
Memasuki 1990-an, angkutan kota sangat dibutuhkan masyarakat. Penelitian mengenai perkembangan angkutan kota Jambi periode 1990-2013 mencatat bahwa 1990 menjadi periode ketika masyarakat masih sangat ramai menggunakan angkot, sedangkan memasuki 2013 aktivitas angkutan kota mulai mengalami penurunan.
Dari Rawasari, berbagai trayek menghubungkan pusat kota dengan kawasan permukiman, pendidikan dan perdagangan. Di antaranya jalur menuju Mayang, Simpang Rimbo, Kasang, Tanjung Pinang, Sipin-Telanaipura, Broni-Telanaipura, Jelutung-Kenali Asam hingga Talang Banjar-Talang Bakung.
Pada 2012, tarif angkot Kota Jambi tercatat Rp2.000 untuk penumpang umum, sementara pelajar Rp1.000. Saat itu, Organda mengusulkan tarif baru Rp3.000 akibat kenaikan harga BBM. Namun persoalan angkot ternyata bukan hanya tarif. Jumlah angkot yang terdaftar mencapai 1.038 unit, tetapi yang beroperasi hanya sekitar sepertiga atau kurang dari 300 unit.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan kebiasaan masyarakat. Kendaraan pribadi semakin mudah dimiliki, ojek berkembang, angkutan pedesaan ikut mengambil penumpang, sementara masyarakat juga mulai memiliki pilihan transportasi lain.
Kondisi tersebut terus menekan angkot. Pada 2016, Organda menyebut jumlah angkot yang sebelumnya sekitar 1.000 unit aktif tinggal sekitar 300 unit. Rendahnya tarif dan berkurangnya minat masyarakat disebut membuat sebagian trayek berada dalam kondisi sulit bertahan.
Di sisi lain, perkembangan kota juga membuat pola perjalanan berubah. Ketika kawasan permukiman dan pusat aktivitas ekonomi semakin menyebar, pola trayek lama tidak selalu mampu mengikuti kebutuhan perjalanan masyarakat.
Beroperasinya Terminal Alam Barajo kemudian ikut mengubah pola terminalisasi angkutan di Kota Jambi. Dokumen Pemerintah Kota Jambi mencatat seluruh angkutan perkotaan diwajibkan masuk ke Terminal Rawasari, sementara pola terminalisasi berkembang sejak beroperasinya Terminal Tipe A Alam Barajo.
Rawasari pun perlahan kehilangan sebagian geliat lamanya sebagai pusat angkutan. Namun kawasan ini tidak sepenuhnya berhenti bergerak.
Kini fungsi transportasi Rawasari kembali mendapatkan bentuk baru melalui layanan bus listrik yang menghubungkan Terminal Rawasari dengan Terminal Alam Barajo dan Paal X. Pemerintah Kota Jambi mulai mengembangkan transportasi umum berbasis listrik sejak 2025 dan hingga 2026 layanan tersebut masih menjadi bagian dari sistem angkutan kota.
- Penulis: say say
