RI Kehilangan Nilai Tambah dari Biji Kakao, Kualitas Rendah Dinikmati Negara Lain
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Jum, 24 Okt 2025
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Kualitas biji kakao Indonesia masih tertinggal dibandingkan produsen kakao global, sehingga nilai tambah hilang dan keuntungan pengolahan dinikmati negara lain. Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Eliza Mardian, menyebut hanya sekitar 10% biji kakao yang difermentasi dengan baik. Akibat rendahnya fermentasi, mutu biji kakao tidak memenuhi standar pembeli premium, terutama di Eropa.
“Secara ekonomi, ini hilangnya nilai tambah. Kita menjual bahan mentah murah, sementara negara lain seperti Swiss meraup untung dari pengolahan,” ujar Eliza, Kamis (23/10/2025).
Kualitas biji kakao yang rendah berdampak pada industri pengolahan kakao domestik. Banyak pabrik di dalam negeri beroperasi tidak penuh (idle capacity), sehingga impor biji kakao meningkat hingga 63% dari total impor pada 2023, menurut kode Harmonized System (HS). Kapasitas industri kakao yang terpakai saat ini diperkirakan sekitar 59%.
Padahal, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibanding produsen besar lain seperti Pantai Gading dan Ghana, berkat rasa unik dari tanah vulkanik dan potensi berkelanjutan.
Untuk memanfaatkan keunggulan ini, Eliza menyarankan peningkatan kualitas melalui fermentasi dan sertifikasi, terutama untuk pasar niche Eropa yang menuntut ketertelusuran (traceability) tinggi.
Namun, tantangan utama datang dari struktur petani kecil yang kesulitan menanggung biaya sertifikasi dan kurangnya insentif harga.
“Harga biji kakao fermentasi dan non-fermentasi hampir sama. Jadi petani tidak memiliki insentif untuk melakukan fermentasi,” jelas Eliza.
Eliza menekankan perlunya skema perbedaan harga, sehingga petani terdorong menghasilkan biji kakao berkualitas tinggi dan Indonesia dapat meningkatkan nilai tambah dari sektor kakao nasional.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar