Karhutla dan Kabut Asap Jambi Tekan Aktivitas Bisnis, Sektor Ini Paling Terdampak
- account_circle say say
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Kebakaran lahan di jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap tebal di Provinsi Jambi tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan. Aktivitas ekonomi ikut terdampak, terutama bisnis yang bergantung pada mobilitas masyarakat, transportasi, distribusi barang, dan aktivitas luar ruang.
Data Posko Satgas Karhutla Provinsi Jambi mencatat 12.106 hotspot sepanjang 2026 hingga 6 Oktober. Luas lahan terbakar mencapai 4.267,51 hektare. Pada 6 Oktober saja, masih terdeteksi 144 titik panas di sejumlah wilayah Jambi.
1. Penerbangan dan Bisnis Perjalanan
Sektor yang paling cepat merasakan dampaknya adalah penerbangan. Kabut asap membuat jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi turun hingga 800 meter pada 8 Oktober, sehingga sejumlah penerbangan mengalami penundaan dan penjadwalan ulang.
Sebelumnya, pada 2 Oktober, tercatat sembilan penerbangan terdampak, mulai dari delay, pengalihan hingga pesawat kembali ke bandara asal.
Gubernur Jambi Al Haris menyebut gangguan penerbangan juga berimbas kepada pelaku usaha dari luar daerah yang hendak datang ke Jambi. Pertemuan bisnis dan aktivitas jasa pun berpotensi tertunda.
2. Perdagangan, UMKM, Restoran, dan Ritel
Kabut asap juga berpotensi menekan transaksi bisnis yang mengandalkan kunjungan langsung. DPRD Kota Jambi mengingatkan bahwa perdagangan, retribusi, dan pajak menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi daerah. Hambatan mobilitas masyarakat dikhawatirkan menurunkan transaksi harian pelaku usaha kecil.
Bisnis seperti warung, restoran, kafe, pusat perbelanjaan, pedagang kaki lima, dan usaha berbasis aktivitas luar ruangan menjadi sektor yang rentan ketika masyarakat memilih mengurangi aktivitas di luar rumah.
3. Logistik dan Distribusi
Transportasi darat dan distribusi barang juga dapat terganggu ketika jarak pandang menurun. Dampaknya dapat merambat ke waktu pengiriman, mobilitas pekerja, hingga aktivitas perdagangan antardaerah. Ekonom menilai gangguan transportasi dan distribusi merupakan bagian dari efek berantai karhutla terhadap perekonomian.
4. Sektor Kesehatan
Di sisi lain, fasilitas kesehatan justru menghadapi peningkatan kebutuhan layanan. Dinkes Kota Jambi mencatat 3.437 kasus ISPA selama periode 24 Agustus-3 September 2026. Artinya, ketika satu sisi ekonomi melambat, sektor kesehatan justru menghadapi tekanan permintaan yang meningkat. Dengan luas karhutla yang telah mencapai ribuan hektare dan kualitas udara yang beberapa kali masuk kategori berbahaya, dampaknya menunjukkan bahwa kabut asap bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi juga persoalan rantai ekonomi. Semakin lama kondisi berlangsung, semakin besar potensi gangguan terhadap mobilitas, transaksi, distribusi, dan produktivitas masyarakat Jambi.
- Penulis: say say
