204 Petani Sawit di Jambi Ikuti Pelatihan, Belajar Teknik Budidaya hingga Panen
- account_circle Sandi
- calendar_month 41 menit yang lalu
- print Cetak

oplus_2
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS – Sebanyak 204 petani kelapa sawit dari 4 kabupaten di wilayah Provinsi Jambi mengikuti pelatihan budidaya, panen, dan pascapanen untuk meningkatkan keterampilan dalam mengelola perkebunan. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, 7–12 Oktober 2026, di Hotel Aston Kota Jambi.
Pelatihan tersebut dirancang untuk membekali petani dengan pengetahuan teknis mengenai pengelolaan kelapa sawit, mulai dari pemilihan bibit dan pemeliharaan tanaman hingga penerapan teknik panen yang tepat.
Program ini merupakan bagian dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit tahun 2026 yang dilaksanakan melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training.
Dari 204 peserta yang mengikuti pelatihan dalam empat angkatan, sebanyak 86 orang berasal dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, 60 orang dari Kabupaten Tebo, 29 orang dari Kabupaten Sarolangun, dan 29 orang dari Kabupaten Batanghari.
Ketua Tim Trainer IPB Training, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, M.S., menyampaikan, materi pelatihan disusun untuk membantu petani memahami tahapan budidaya kelapa sawit secara menyeluruh. Pengetahuan tersebut dimulai dari persiapan kebun hingga perawatan tanaman yang sudah menghasilkan.
“Budidaya itu dari mulai awal memilih lahan, memilih bibit, kemudian bagaimana menanam dan memelihara, baik tanaman belum menghasilkan sampai tanaman sudah menghasilkan,” katanya, Rabu (7/10/2026).
Selain budidaya, pelatihan juga mencakup teknik pemanenan yang benar. Menurut Hariyadi, petani perlu memahami cara panen yang tepat karena tahapan tersebut berpengaruh terhadap hasil perkebunan.
“Bagaimana cara pemanenan yang baik akan menentukan hasil. Jadi budidaya dan panen itu saling melengkapi,” ungkapnya.
Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pertanian Berkelanjutan sekaligus pakar agronomi di IPB University itu juga menyoroti pentingnya pemahaman petani mengenai penggunaan bibit unggul dan administrasi perkebunan.
Salah satu hal yang disampaikan adalah Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), yang berfungsi sebagai tanda bahwa kebun telah terdaftar dan memuat informasi mengenai luas serta lokasi perkebunan.
“Sebagian besar petani belum punya STDB. Surat ini semacam tanda bahwa kebun itu terdaftar, misalnya berapa luasannya dan lokasinya di mana. Itu nanti menjadi salah satu syarat untuk bisa ISPO,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Apung Ismane, mengatakan, pelatihan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi petani agar mampu menerapkan teknik budidaya secara tepat.
Ia berharap peserta dapat mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan, terutama dalam pemeliharaan tanaman dan pengelolaan kebun.
“Budidaya kelapa sawit harus semakin produktif dan agresif. Seluruh peserta kami harapkan menerapkan teknis budidaya yang tepat,” katanya.
Adapun materi teknis yang ditekankan meliputi pemeliharaan bahan tanam, perawatan tanaman, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan teknologi.
Ketua Tim Kerja Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas/Kapabilitas Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan, Tulus Tri Margono, mengatakan, peningkatan keterampilan petani merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki pengelolaan perkebunan sawit rakyat.
Menurut dia, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sarana dan prasarana. Petani juga perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan sarana tersebut dan menerapkan teknik budidaya yang sesuai.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan bersama BPDP turut menjalankan program peremajaan kelapa sawit serta memfasilitasi kebutuhan perkebunan, seperti pupuk, pestisida, mesin pertanian, dan sarana pendukung lainnya.
“Terutama mulai dari pekebun, keluarga pekebun, karyawan, pendamping, penyuluh dan semuanya,” katanya.
Tulus menambahkan, penerapan teknik budidaya dan penanganan pascapanen yang kurang tepat dapat menyebabkan kehilangan hasil. Karena itu, peserta diminta memanfaatkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan sekaligus menyebarkan pengetahuan kepada petani lain setelah kembali ke daerah masing-masing.
“Jangan disia-siakan kesempatan ini. Nanti bisa ditularkan kepada petani-petani lain di lingkungan Anda semua,” katanya.
Melalui pelatihan yang berlangsung selama enam hari tersebut, peserta diharapkan memperoleh bekal teknis yang dapat langsung diterapkan di perkebunan.
Pengetahuan mengenai budidaya, pemanenan, dan penanganan pascapanen diharapkan membantu petani mengelola kebun secara lebih tepat, efisien, dan berkelanjutan.
- Penulis: Sandi
