Rupiah Kembali Tersungkur, Dolar AS Makin Perkasa
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan rupiah dan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah kembali tidak berdaya menghadapi dolar Amerika Serikat (AS). Setelah menutup perdagangan akhir pekan di zona merah, mata uang Indonesia kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026).
Mengutip Antara, rupiah kini bertengger di level Rp17.783 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.758 per dolar AS.
Disisi lain, indeks dolar AS terpantau bergerak stabil di posisi 100,217.
Pergerakan rupiah pada awal pekan ini diperkirakan masih diwarnai oleh dinamika eksternal, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi global.
Selera risiko investor masih cenderung tertahan setelah sejumlah bank sentral utama dunia menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal bahwa pengetatan lanjutan masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 5 basis poin menjadi 4,743 persen, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2024. Imbal hasil tenor 10 tahun juga bertambah 5 basis poin menjadi 4,996 persen, sedangkan tenor 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,327 persen.
Kenaikan imbal hasil tersebut dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Namun, indeks dolar mengakhiri perdagangan Jumat dengan pergerakan stabil sehingga dapat memberikan ruang terbatas bagi rupiah untuk menguat.
Ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian setelah kelompok Houthi Yaman menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi sensitif di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu. Iran dan AS juga kembali saling melontarkan ancaman.
Harga minyak mentah AS memang ditutup turun 1,58% pada Jumat lalu. Namun, perkembangan terbaru di Timur Tengah berpotensi membuat pergerakan harga energi kembali bergejolak pada awal pekan ini.
Pasar juga menantikan hasil pertemuan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York. Pertemuan tersebut dapat membuka jalan bagi sejumlah kesepakatan menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada Kamis mendatang.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: darmanto zebua
