Danantara Siap Borong Saham Blue Chip di Tengah Anjloknya IHSG, Ini Alasannya
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Danantara Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengoleksi saham-saham blue chip yang memiliki fundamental kuat di tengah tekanan pasar modal Indonesia. Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai dapat menjadi peluang investasi jangka panjang, terutama pada saham-saham unggulan yang mengalami koreksi harga signifikan.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menilai pelemahan pasar saham saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan penurunan kinerja perusahaan. Menurutnya, tekanan yang terjadi turut dipengaruhi faktor teknis dan dinamika nonfundamental di pasar modal.
Dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16/10/2026), Rosan menegaskan bahwa Danantara tetap berpegang pada fundamental perusahaan dalam menentukan strategi investasinya. Lembaga tersebut melihat kondisi pasar saat ini sebagai kesempatan untuk memperkuat investasi jangka panjang di Indonesia.
Berdasarkan data RTI Business pada pukul 15.22 WIB, IHSG terkoreksi 11,33% ke level 5.202. Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar, khususnya dari sektor perbankan, teknologi, telekomunikasi, dan pertambangan, turut mengalami penurunan tajam.
Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 13,99% ke level Rp5.225 per saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp5,3 triliun. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) melemah 12,26% ke level Rp2.720, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) turun 8,54% ke level Rp3.640 per saham.
Rosan menyebut sejumlah saham unggulan, terutama di sektor perbankan dan BUMN, telah diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah. Beberapa saham bahkan memiliki rasio price to book value (PBV) di bawah satu kali, yang menunjukkan harga pasar berada di bawah nilai buku perusahaan.
Tekanan terhadap IHSG dipicu pengumuman MSCI Inc. pada Kamis (15/10/2026), yang membuka konsultasi publik mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor global dan arus investasi asing.
Keputusan final MSCI dijadwalkan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027. Di tengah ketidakpastian tersebut, Danantara menegaskan posisinya sebagai investor strategis jangka panjang dan optimistis terhadap prospek pemulihan pasar modal Indonesia.
- Penulis: say say
