Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp17.948, Tinggal Rp52 dari Rp18.000
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Mata uang Indonesia dan dolar Amerika Serikat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Nilai tukar rupiah kembali melemah tajam pada perdagangan Kamis (15/10/2026), sekaligus semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Antara, rupiah dibuka melemah 45 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp17.948 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.903 per dolar AS.
Dengan posisi tersebut, rupiah kini hanya berjarak Rp52 dari level Rp18.000 per dolar AS.
Menariknya, tekanan terhadap rupiah terjadi ketika indeks dolar AS justru bergerak melemah. Pada perdagangan Kamis, indeks dolar AS turun 0,47 persen ke level 102,068.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang meningkat.
“Inflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar,” ujarnya.
Secara tahunan, inflasi headline meningkat menjadi 3,7 persen year on year (YoY) dari 3,4 persen YoY, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen YoY. Inflasi September 2026 juga merupakan level tertinggi sejak Mei 2026. Dia menyatakan kenaikan inflasi headline terutama didorong oleh peningkatan biaya energi.
Sementara itu, inflasi inti juga meningkat menjadi 2,6 persen YoY dari 2,4 persen YoY, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen YoY. Kenaikan inflasi inti terutama didorong oleh peningkatan biaya shelter dan kendaraan.
“Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tersebut memperkuat ekspektasi terhadap sikap The Fed yang hawkish, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” ungkap Josua.
Hingga pagi ini, lanjutnya, investor masih memperkirakan kenaikan suku bunga kebijakan berikutnya akan terjadi pada Desember 2026.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
