Siapkan 6 Hektare Lahan, Kacang Koro Dibidik Jadi Mesin Ekonomi Baru Jambi
- account_circle -
- calendar_month 26 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Tanaman Kacang Koro yang akan dikembangkan Pemprov Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Ada komoditas yang selama ini kurang dilirik, tetapi kini mulai dibidik menjadi sumber pangan sekaligus peluang ekonomi baru. Kacang koro perlahan naik kelas di Provinsi Jambi.
Pemerintah Provinsi Jambi mulai mengembangkan kacang koro sebagai pangan alternatif. Sebanyak 6 hektare lahan disiapkan untuk budidaya kacang koro di kawasan seluas 10 hektare di Kelurahan Beluran Kenali, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.
Pengembangan tersebut ditandai dengan pencanangan Agrowisata Tanaman Koro dan Kampung Pangan Terpadu, Rabu (7/10/2026).
Program ini tidak hanya diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan. Lebih jauh, kacang koro diproyeksikan membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat melalui budidaya hingga pengolahan produk.
Gubernur Jambi Al Haris mengatakan kacang koro bukan tanaman baru di Indonesia. Namun, pemanfaatannya belum sepopuler kedelai yang selama ini menjadi bahan utama berbagai produk pangan.
“Kacang koro ini sudah lama ada di Indonesia, hanya saja belum banyak dipopulerkan. Padahal kandungan proteinnya luar biasa,” kata Al Haris.
Menurutnya, pengembangan kacang koro dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor.
Selama ini, kedelai menjadi bahan baku penting berbagai produk pangan masyarakat. Karena itu, keberadaan komoditas alternatif dinilai dapat memberikan pilihan baru sekaligus membuka peluang bagi petani untuk memanfaatkan lahan yang belum produktif.
“Tujuannya, karena kita masih mengimpor kedelai, paling tidak dengan kacang koro ini kita bisa mengurangi impor,” ujarnya.
Potensi ekonominya tidak berhenti di lahan. Kacang koro juga memiliki peluang untuk masuk ke sektor hilir.
Al Haris menyebut kacang koro dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tempe, kopi, kecap, dan produk pangan lainnya.
Artinya, peluang ekonominya bisa bergerak dari hulu ke hilir. Masyarakat tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk biji, tetapi juga memiliki kesempatan mengolahnya menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Pola tersebut membuka ruang bagi petani, pelaku UMKM, hingga kelompok usaha untuk mengambil bagian dalam rantai ekonomi kacang koro.
“Kalau masyarakat punya lahan yang belum dimanfaatkan, ayo kita tanam kacang koro. Ini bisa memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi warga,” kata Al Haris.
Dengan disiapkannya 6 hektare lahan budidaya tahap awal, pengembangan kacang koro di Jambi kini memasuki babak baru.
Tantangannya adalah bagaimana komoditas tersebut tidak berhenti sebagai tanaman alternatif, tetapi benar-benar berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi, memiliki pasar, dan mampu mendorong munculnya produk olahan dari masyarakat Jambi.
Jika hilirisasi berjalan, kacang koro bukan hanya bisa menjadi alternatif pangan. Biji yang selama ini kurang populer itu berpotensi berubah menjadi sumber pendapatan baru dari lahan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Johansyah mengatakan kawasan tersebut akan dikembangkan secara terpadu. Dari total 10 hektare lahan, 6 hektare untuk kacang koro, 3 hektare untuk sayuran dan peternakan, serta 1 hektare untuk pengolahan dan industri rumahan.
“Untuk kacang koro, satu hektare bisa menghasilkan sekitar 8 ton dan dapat dipanen setiap tiga bulan,” kata Johansyah.
Pengembangan tidak berhenti pada budidaya. Kelompok Tani Silih Asih juga telah mengolah kacang koro menjadi kopi, bahan pengganti tempe, susu hingga beras koro. Pemerintah turut mendorong hilirisasi melalui bantuan 12 unit alat pengolahan senilai hampir Rp150 juta serta akses permodalan melalui PNM.
“Dengan konsep tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi berharap kawasan Agrowisata Kacang Koro dan Kampung Pangan Terpadu dapat menjadi contoh pengembangan pangan berbasis masyarakat,” ujar Johansyah.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
