Bukan Sekadar Kain, 7 Motif Batik Jambi Ini Punya Filosofi Dalam
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 38 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Motif batik Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Jangan buru-buru menganggap batik hanya sebagai kain bermotif indah. Di Jambi, setiap goresan motif menyimpan cerita. Ada pesan tentang perjuangan hidup, kepemimpinan, kejujuran, hingga harapan agar manusia selalu menuntaskan apa yang telah dimulai.
Provinsi Jambi memang memiliki batik dengan karakter khas. Motif-motifnya banyak terinspirasi dari flora, fauna, lingkungan alam, hingga kehidupan masyarakat Melayu Jambi.
Berdasarkan catatan sejarah yang berkembang, batik Jambi telah dikenal sejak masa Kesultanan Melayu di Jambi. Pada masa itu, batik masih menjadi kerajinan yang relatif langka. Penggunaannya pun terbatas di lingkungan keluarga sultan.
Keterbatasan orang yang memiliki kemampuan membatik serta belum luasnya penyebaran kerajinan tersebut membuat batik Jambi dahulu identik dengan kalangan bangsawan.
Salah satu keunikan batik Jambi terletak pada motifnya yang cenderung berdiri sendiri dan tidak selalu membentuk rangkaian seperti pada sejumlah batik dari daerah lain.
Secara umum, ragam hias batik Jambi terbentuk dari perpaduan titik, warna, dan tekstur. Elemen-elemen tersebut kemudian menghasilkan komposisi melalui pengulangan, pusat perhatian, keseimbangan, serta kekontrasan.
Di balik keindahan visual tersebut, tersimpan pula nilai-nilai filosofis yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Setidaknya ada tujuh motif batik Jambi yang populer. Masing-masing memiliki bentuk sekaligus pesan yang berbeda.
1. Motif Angso Duo
Motif Angso Duo menjadi salah satu motif batik Jambi yang paling dikenal.
Motif ini menggambarkan dua ekor angsa yang saling berhadapan atau beriringan. Dalam sejumlah pengembangan, bentuk kedua angsa tersebut dapat mengalami modifikasi.
Di balik gambar tersebut tersimpan pesan tentang perjalanan manusia dalam menjalani kehidupan.
Motif Angso Duo dimaknai sebagai ajaran agar manusia selalu berusaha mencari tempat dan kehidupan yang lebih baik. Manusia juga diingatkan untuk hidup selaras dan harmonis dengan sesama.
Selain itu, motif ini membawa pesan tentang kegigihan dan kesabaran dalam berusaha. Artinya, perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik tidak selalu mudah dan membutuhkan ketekunan.
2. Motif Batanghari
Nama motif Batanghari tentu tidak bisa dilepaskan dari sungai yang menjadi salah satu ikon penting Provinsi Jambi.
Sungai Batanghari mengalir melintasi wilayah Jambi dan dikenal sebagai sungai terpanjang di Pulau Sumatera.
Dalam motifnya, Batanghari digambarkan melalui berbagai unsur seperti gunung, aliran sungai, flora, dan fauna. Bentuk sulur tanaman yang membentang dari bawah ke atas terinspirasi dari lekukan aliran Sungai Batanghari.
Filosofinya pun kuat.
Aliran sungai menjadi gambaran perjalanan manusia ketika menghadapi persoalan kehidupan. Seperti air yang terus mengalir dari hulu menuju hilir, manusia juga dituntut tidak mudah menyerah dan harus terus mencari jalan keluar dari setiap masalah.
3. Motif Kaca Piring
Sekilas, motif Kaca Piring memiliki kemiripan dengan motif kawung yang dikenal dalam batik Jawa Tengah.
Motif ini menampilkan bentuk yang simetris dan berulang. Kaca Piring sendiri diambil dari bentuk bunga yang dalam proses penggambaran menggunakan canting kemudian menyerupai bunga kaca piring atau *Gardenia jasminoides*.
Motif tersebut membawa pesan agar manusia selalu tegar dalam menjalani kehidupan.
Tidak hanya itu, Kaca Piring juga menggambarkan hati yang bersih.
Keindahan motifnya bukan sekadar permainan bentuk. Ada pesan moral yang melekat di dalamnya: keteguhan dan kebersihan hati menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan.
4. Motif Bungo Melati
Sesuai namanya, motif Bungo Melati terinspirasi dari bunga melati yang dikenal memiliki aroma harum.
Secara visual, motif ini sekilas memiliki kemiripan dengan motif truntum dari Jawa.
Namun, filosofi yang dibawanya memiliki pesan tersendiri. Bungo Melati mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur sehingga terhindar dari rasa iri dan dengki.
Motif ini juga mengandung pesan agar manusia tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
Sikap sombong juga menjadi sesuatu yang harus dihindari. Dengan demikian, bunga melati dalam motif batik Jambi tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga mengingatkan pemakainya tentang pentingnya rendah hati dan bersyukur.
5. Motif Durian Pecah
Kalau melihat namanya, gambaran motif ini cukup mudah ditebak.
Motif Durian Pecah menggambarkan buah durian yang terbelah menjadi dua bagian. Secara visual, motif tersebut memiliki kemiripan dengan motif ceplokan dari Jawa.
Durian sendiri merupakan salah satu buah yang lekat dengan kehidupan masyarakat Jambi.
Selain bentuk durian, motif ini juga dilengkapi ornamen resam, daun pakis, dan bunga kangkung.
Namun, pesan terpenting dari motif Durian Pecah berkaitan dengan kepemimpinan.
Motif tersebut mengandung filosofi bahwa seorang pemimpin harus amanah, tegas dalam perilaku maupun ucapan, serta mampu memberikan manfaat bagi banyak orang.
6. Motif Tampuk Manggis
Buah manggis juga mendapatkan tempat dalam ragam motif batik Jambi.
Motif Tampuk Manggis terinspirasi dari buah manggis yang banyak ditemukan di wilayah Jambi.
Ada aturan dalam penggambaran motif ini, yakni jumlah ornamen bagian luar dan bagian dalam kurungan harus sama. Hal tersebut dimaknai sebagai gambaran karakter masyarakat Jambi yang jujur dan terbuka.
Filosofi lain muncul dari warna buah manggis.
Kulit manggis yang berwarna hitam kemerahan sementara bagian dalamnya berwarna putih menjadi simbol bahwa manusia tidak seharusnya menilai sesuatu hanya berdasarkan tampilan luar.
Pesannya sederhana, tetapi dalam: apa yang terlihat belum tentu menggambarkan isi sebenarnya.
7. Motif Kapal Sanggat
Motif terakhir adalah Kapal Sanggat.
Sesuai namanya, motif ini menggambarkan sebuah kapal yang sedang berlayar.
Filosofi yang dibawa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada ungkapan, “berlayar sampai ke pulau, berjalan sampai ke tujuan.”
Maknanya, setiap pekerjaan yang sudah dimulai sebaiknya diselesaikan hingga tuntas. Tidak dikerjakan setengah-setengah.
Kapal dalam motif tersebut juga memiliki detail berupa tiang yang digambarkan terbalik dan tidak beriringan dengan bentuk kapal.
Detail tersebut menjadi pengingat agar manusia selalu waspada ketika melakukan sesuatu. Sebab, kecerobohan dapat menimbulkan persoalan bahkan malapetaka di kemudian hari.
Tujuh motif tersebut menunjukkan bahwa batik Jambi bukan sekadar permainan warna dan bentuk di atas kain.
Di balik Angso Duo, Batanghari, Kaca Piring, Bungo Melati, Durian Pecah, Tampuk Manggis, hingga Kapal Sanggat, terdapat pesan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.
Dari kegigihan mencari kehidupan yang lebih baik, tidak mudah menyerah, menjaga kebersihan hati, bersyukur, menjadi pemimpin yang amanah, bersikap jujur, hingga menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas.
Itulah yang membuat batik Jambi tidak hanya menarik untuk dikenakan, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang nilai kehidupan masyarakat Jambi.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
