Rupiah Kembali Tersungkur! Pagi Ini Tembus Rp17.743 per Dolar AS
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 7 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Mata uang Indonesia dan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM– Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Rabu pagi (20/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring tekanan yang masih membayangi pasar keuangan.
Pada perdagangan pagi ini, dikutip dari Antara, rupiah turun 37 poin atau sekitar 0,21 persen menjadi Rp17.743 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.706 per dolar AS.
Pelemahan rupiah menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berlangsung di tengah dinamika ekonomi global dan pergerakan dolar AS. Sentimen pasar internasional, arah kebijakan suku bunga, hingga arus modal asing masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Kondisi ini memicu perdebatan sengit di kalangan ekonom menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode April 2026 yang dijadwalkan pada Rabu (20/5/2026) siang ini.
Pasar kini menanti keputusan krusial bank sentral: apakah akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% atau menaikkannya menjadi 5% demi membendung depresiasi yang kian dalam.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, secara tegas menyarankan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5%. Menurutnya, fokus utama BI saat ini harus bergeser sepenuhnya pada stabilisasi Mata Uang Rupiah, meskipun berisiko memperlambat pertumbuhan kredit.
“Prioritas utama Bank Indonesia saat ini harus berfokus pada stabilisasi rupiah,” ujar Riefky. Ia menyoroti kinerja rupiah yang tergolong buruk dengan pelemahan 5,50% secara year to date (ytd), hanya lebih baik dari lira Turki dan rupee India.
Di sisi lain, Kepala Ekonom BCA David Sumual dan Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto cenderung memproyeksikan BI akan menahan suku bunga. Myrdal menilai kenaikan suku bunga saat ini justru berisiko membebani sektor riil yang sudah tertekan oleh mahalnya dolar AS dan biaya ekspansi bisnis.
Keputusan final BI-Rate siang ini akan menjadi sinyal krusial bagi arah ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua

